.

Cerita "Perasaan Istri Berjilbab" Mencari Kebahagiaan

 

Dua tahun usia pernikahan semakin memperjelas bagiku, bahwa wajah bukanlah syarat kebahagiaan. Harta bukanlah keniscayaan seyuman. Aku mungkin lebih dibanding wanita lain, belanja tinggal mengambil kartu kredit, pergi ke sana kemari, cukup memerintahkan satpam.

Entah apa yang ada dalam pikiranku. Mungkin aku sudah berubah. Aku seakan "liar" dengan perasaanku sendiri. Aku tak bisa memaksa melihatmu sibuk untuku. Aku tahu kamu setia setidaknya tidak mencari yang lain sebagai tambatan hatimu.

Tengah malam aku kadang terbangun, kamu pasti tak tahu. Mataku tak bisa terpejam, kala tanganku kuhempaskan ke samping kiri kanan, dan hanya menemukan guling waran violet kesayanganmu. Aku dingin. Aku gelisah, tapi aku tak resah.

Kadang sisi perasaanku yang lain ingin mencari hal baru dalam kebersamaan kita. Tapi apa mungkin, karena kutahu itu salah. Perasaanku yang tak mau disalahkan justru mengalahkan diiriku sendiri. Aku beranjak dari ranjang pengantin kita menuju ke jendela, dan yang ada hanya gelap malam.


"Tung"... bunyi pesan media sosial yang tak mungki kau jangkau. Maafkan aku, karena aku telah menjalin komunikasi terhadap beberapa orang tanpa sepengetahuanmu. Hy, sayang, cups, adalah kata-kata yang mungkin membuatmu marah tak pandang bulu jika mengetahuinya.

Sayang, aku harus sembunyi. Sembunyi dalam kebutuhanku. Sembunyi, karena aku masih sayang sama kamu :)
Cerita "Perasaan Istri Berjilbab" Mencari Kebahagiaan 4.5 5 EYH Libnan Sayang, aku harus sembunyi. Sembunyi dalam kebutuhanku. Sembunyi, karena aku masih sayang sama kamu :) Dua tahun usia pernikahan semakin memperjelas bagiku, bahwa wajah bukanlah syarat kebahagiaan. Harta bukanlah keniscayaan seyuman. Aku mungk...